Mesin Pencari Google

Monday, November 5, 2007

KLINIK KOMPLEMENTER: PERLUKAH?

Pelayanan kesehatan saat ini dan masa yang akan datang akan terus dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan dan kebutuhan masyarakat tentang kesehatan, pelayanan kesehatan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan harapan masyarakat.
Dengan perkembangan tekhnologi dan terapi obat-obatan maka pembiayaan kesehatan juga meningkat. Disisi lain, tidak semua masyarakat mempunyai cukup biaya untuk dapat mengakses semua bentuk teknologi dan pelayanan kesehatan. Masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan yang murah dan bermutu, terjamin keselamatan dan efektifitasnya. Berkembang pengobatan alternatif, yang kemudian dikenal dengan Complementary Alternative Medecine (CAM), Complementary Alternative Therapies (CAT) atau kadang disebut juga Complementary Therapies (CTs).
CTs mulai mendapatkan momentummnya dalam praktek medis dan keperawatan di AS saat masyarakat mulai mengenali adanya keterbatasan dalam terapi konvensional. Eisenberg et al (1998) menemukan bahwa 42% dari respondennya menggunakan berbagai bentuk dari terapi komplementer, 10% mengalami peningkatan dari survey tahun 1991 pada kelompok penelitian yang sama (Snyder & Lindquist, 2001). Kisah yang paling menarik adalah mayoritas masyarakat AS membayar pelayanan ini sebanyak $22 milyar berdasarkan pada survey tahun 1997 (Snyder & Lindquist, 2001). Pada tahun 2001, 47% (25) dari 53 negara bagian dan dewan keperawatan teritorial memperbolehkan praktek CTs; 13% (7) masih dalam proses mendiskusikan issue tersebut; dan 40% (21) tidak secara formal menyinggung topik ini namun juga tidak menolak praktek ini (Sparber, 2001).
Alasan populer dari penggunaan CTs ini termasuk diantaranya adalah tidak sembuhnya penyakit setelah menjalani pengobatan konvensional (therapi farmakologik standar), sedikit atau tidak diketahuinya efek samping pada CTs, pasien lebih memiliki kontrol dan terlibat dalam pengambilan keputusan dalam pengobatan, tidak adanya atau kurangnya faktor invasif, pasien mempunyai keinginan untuk dilayani oleh tenaga kesehatan yang ‘mendengar’ dan ‘peduli’, menginginkan untuk diintervensi dengan cara yang holistik (pasien diperhatikan secara bio-psiko-sosial-spiritual), lebih berinteraksi dengan tenaga kesehatan, dan cost effectiveness (Snyder & Lindquist, 2001).
Di Indonesia klinik komplementer sudah banyak masuk dalam pelayanan terintegrasi dengan pelayanan rumah sakit. Kelengkapan pelayanan komplementer yang diberikan dan kesesuaian antara harapan pelanggan dan ketersediaan pelayanan bagi pelanggan masih banyak dipertanyakan.
RSU Banyumas merupakan salah satu institusi pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang sudah diakui dan mendapatkan hati bagi masyarakat di wilayah karesidenan Banyumas. Hal tersebut dibuktikan dengan survei kepuasan pelanggan, diraihnya penghargaan pelayanan publik dan jumlah kunjungan yang cukup banyak. Menjadi tantangan bagi RSU Banyumas untuk menyediakan pelayanan komplementer yang holistik dan terintegrasi dengan pelayanan rumah sakit secara keseluruhan sehingga masyarakat tidak usah mencari pelayanan ditempat lain yang kredibilitasnya belum teruji.

1 comment:

basuki said...

bravo..!
Cepet cepet aja direalisasikan. daripada masyarakat lari ke dukun atau ahli nujum yg ga jelas ujung pangkalnya.
slamat berjuang.